Keseluruhan

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kaffah, secara bahasa artinya keseluruhan. Makna kata secara bahasa ini juga memberikan kita konsep kaffah yang berarti “tidak setengah-setengah”, atau menjadi “muslim yang sungguhan”.

Dalam masyarakat modern kini, seringkali yang dipahami ‘agama’ hanya diartikan sebagai ‘agama’ saja. Maksudnya, konsep deen (atau sering juga kita kenal istilah dienul Islam) disamakan dengan konsep agama dalam poros yang sekuler. Pada akhirnya tercipta pemahaman dalam masyarakat bahwa agama itu tidak lebih dari sekedar kumpulan kaidah peribadatan yang dilaksanakan dalam agama masing-masing misalnya shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, i’tikaf dan naik haji. Diluar dari itu, masyarakat Indonesia yang mayoritas berstatus muslim secara asas legalitasnya, tidak sadar akan apa kewajiban dan tanggungannya sebagai muslim selain beribadah.

Muslim yang sungguhan (baca : kaffah) adalah muslim yang mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupannya, dari sejak ia terbangun di pagi hari hingga tidur kembali di malam harinya, dan berlanjut esok, esok dan esoknya lagi selama ia hidup dan beriman kepada Allah. Ajaran-ajaran dalam Islam sendiri, yang terjelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan hanya membahas mengenai bagaimana seorang muslim beribadah, melainkan juga bagaimana ia beraktifitas sehari-hari. Mulai dari cara buang air kecil, makan hingga berjihad, Islam memiliki kelengkapan dalam tata cara melaksanakan hidup.

Dirasakan, banyak sekali faktor yang mempengaruhi sulitnya seorang muslim di zaman ini untuk berkaffah. Barangkali kita bisa menyebutkan banyak sekali faktor eksternal yang menyebabkan mengapa begitu sulitnya kita mengamalkan kaffah meski hanya dalam satu hari saja. Misalnya faktor kebudayaan, gaya masyarakat yang praktis dan ketidaktahuan. Saya tidak akan begitu banyak membahasnya, karena faktor eksternal ini sifatnya relatif dan subjektif, tergantung pada pribadi masing-masing apakah dirinya mudah terpengaruh atau tidak.

Namun, satu faktor objektif yang berasal dari diri sendiri, yakni iman. Secara bahasa, iman artinya ‘membenarkan’. Saat seorang muslim yakin, membenarkan, bahwa Allah itu Maha Melihat hamba-hambanya, mengetahui perbuatan yang baik dan yang buruk, benar diyakini dengan sebenar-benarnya dan mengamalkannya melalui penjagaan akhlak terhadap sesama dan kepada Tuhannya, seseorang in syaa Allah akan selalu berusaha mengkaffahkan dirinya.

Dan bila kita kaitkan akhlak dengan ibadah, seorang muslim yang kaffah akan menginterpretasikan hasil ibadahnya dalam berakhlak. Seseorang yang shalat berjamaah, selain niat utamanya adalah lillahi ta’ala, karena Allah, juga merupakan simbol persatuan menuju kepada Allah. Maka dalam bermasyarakat, muncul rasa kasih sayang dalam dirinya ke sesama saudara muslim, kepada sesama manusia, rasa ingin saling tolong menolong karena Allah, keinginan berjalan beriringan dalam ukhuwah menuju ridha-Nya.

Cukuplah bagi seorang yang beriman keyakinan sebagai kekayaan, ibadah sebagai kesibukan, dan akhirat sebagai pengingat saat kita tidak taat.

Kebenaran hanya milik Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: