Hakikat Ilmu

Bismillahirrahmanirrahim.

Ilmu.
Dalam islam hakikat ilmu bagaikan cahaya. Cahaya yang akan menyinari tiap-tiap jalan kehidupan. Ilmu akan membawa kita kepada jalan kebenaran jika ilmu tersebut dipelajari sesuai syariat islam yang benar. Bahkan dalam islam menuntut ilmu hukumnya adalah wajib, baik laki-laki maupun perempuan.

Orang yang memiliki ilmu mendapatkan kehormatan di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya. Ilmu bukan sekedar hanya dibaca atau ditulis, namun orang yang menuntut ilmu adalah orang yang mencari tahu kebenaran dari sesuatu kemudian langsung ia terapkan di kehidupannya. Maka ilmu tersebut disebut cahaya yang akan menerangi setiap jalannya.

Dijelaskan dalam QS Al-Mujadalah : 11 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Dan, sebaik-baiknya menuntut ilmu adalah menuntut ilmu Allah. Sehingga ilmu itu benar adanya.

Kemudian dalam menuntut ilmu pun kita perlu kesungguhan. Kesungguhan adalah pembuktian kepada Allah bahwa kita benar bersungguh-sungguh dengan apa yang kita lakukan. Kesungguhan atas apa yang kita lakukan pun tak lepas halnya dengan niat kita.

Niat. Semua itu tertuju kepada Allah. IA tempat kita kembali. Bahkan memasrahkan apa yang kita lakukan dan kita perjuangkan dengan kesungguhan hati.

Lalu apa itu saja cukup?

Untuk para pembaca, saya akan menambahkan lagi point selanjutnya, yaitu menyeluruh.

Apa yang kita lakukan haruslah menyeluruh. Tak ada pengkhianatan dalam niat karenaNya. Sebab kita di dunia ini mengejar ridha Allah.

Bahkan perihal menyukai atau menggemari sesuatu pun harus karena Allah. Niatkan secara menyeluruh karenaNya. Sebab, sekali kita memandang dunia, kita akan terlena jika tak memiliki keteguhan iman yang kuat.
Kekhilafan pada manusia dalam melakukan sesuatu pun itu sebenarnya hal wajar. Mengapa wajar? Itu bisa jadi karena manusia belum paham benar ilmu yang ia pelajari atau belum menyeluruh dalam melakukannya sehingga khilaf itu akan muncul.

Yang tak wajar adalah apabila manusia dengan sombongnya tak meminta ampun dan petunjuk dari Allah.
Yang tak wajar adalah manusia yang tahu Allah Maha Pengampun maka dengan khianatnya ia mendustakan, mengkhianati, bahkan mengabaikan kesalahan-kesalahannya.
Yang tak wajar adalah apabila manusia bersenang-senang pula sesuka hatinya tanpa menghiraukan orang-orang yang ia sakiti secara tak langsung karena ulah perbuatannya.

Maka, berimanlah sebelum berilmu. Sebab, terkadang ilmu yang kita tahu bisa jadi suatu hal yang salah karena paradigma yang berbeda. Karena dengan imanlah kita dapat melembutkan hati dan merendah diri. Dengan iman pula logika dan hati akan menyatu.

 

Ridha Ripada

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: