Munafiq : Antara Sifat Buruk dan Janji Allah

Munafiq3-1024x585
Di dalam ensiklopedia bebas bahasa indonesia (wikipedia) dijelaskan bahwa munafiq atau munafik dalam terminologi Islam merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hatinya.
Pada masa Rasulullah, mereka tampil ketika masa hijrah Rasul dan rombongannya ke Madinah. Dimpimpin oleh yang bernama Abdullah bin Ubay. Dalam beberapa literatur, pada masa itu ia hendak dijadikan pemimpin kota Madinah, namun tidak jadi karena kedatangan Rasulullah yang disambut dengan antusiasme yang membuat terlupakannya si bakal Raja Madinah tersebut.
Adapun Rasulullah menyebutkan tanda-tanda atau ciri ciri orang munafik. Sebagaimana yang tercantum dalam sebuah petikan hadist, beliau bersabda :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (H.R. Bukhari)

Maka dapat kita ambil poin-poin ciri-ciri orang munafik dari hadist di atas :
1. Apabila berkata maka dia akan berkata bohong.
2. Jika membuat suatu janji atau kesepakatan dia akan mengingkari janjinya.
3. Bila diberi kepercayaan (amanat) maka dia akan mengkhianatinya.
 Beberapa keburukan orang munafiq dengan jelas juga diceritakan dalam Al-Qur’an oleh Allah dalam firmannya di surat An-Nisa ayat 137-145 :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus (137). Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (138), (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah (139). Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam neraka jahanam (140), (yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata, “Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat bagian (kemenangan) mereka berkata, “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu pada hari kiamat. Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman (141). Sesungguhnya orang munafiq itu hendak menipu Allah tapi Allah lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka (hanya shalat untuk) bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali (142). Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir) tidak termasuk kepada golongan ini (beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (kafir). Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya (143). Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk meng’adzabmu) (144)? Sungguh orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah (paling panas) dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka (145).”
Maka Allah menjelaskan beberapa sifat buruk dari orang-orang munafiq ini, yang kurang lebihnya dapat kita ambil poin-poinnya :
1. Merasa dapat mengelabui Allah dengan mengaku beriman, padahal Allah Maha Mengetahui.
2. Bila diperintahkan shalat mereka malas, tidak khusyuk, hanya mengharapkan pujian dari manusia atas amalan shalatnya.
3. Sedikit sekali berdzikir, tidak malu dalam melakukan tindak maksiat kepada Allah karena tidak ingat bahwa Allah Maha Melihat apa yang manusia kerjakan.
4. Dengan rela memilih dipimpin oleh seorang non-muslim (Kafir) dalam rangka memperoleh keuntungan dari mereka (orang-orang kafir), namun kadang kembali kepada golongan muslim bila keadaan menguntungkan sedang berpihak pada orang-orang muslim. Mungkin mereka bisa menipu manusia, namun Allah Maha Tau apa yang mereka kerjakan.
Maka selayaknya, kita sebagai seorang muslim menjauhi sifat-sifat ini, sekalipun barangkali hanya sebagian sifatnya saja. Jangan sampai kemunafikan berada dalam hati kita, karena siapa tau nanti yang kecil akan menjadi penghalang Allah menerima kita di sisi-Nya di akhirat, dan penghalang Rasulullah Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam memberikan syafa’at dan air minum bagi kita di telaganya kelak.
Semoga bermanfaat dan dapat diamalkan.
Ihdinash-shiraatal mustaqiim.
Billahi fii sabilil haqq, kebenaran hanya milik Allah.
Bandung, 15 April 2017
Ahmad Bustan Djatmadipura
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: