Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan

Al-Quran-with-Bangla-Bengali-Translation-Audio-MP3

Bismillahirrahmanirrahim.

Bandung, Jum’at 14 April 2017 kemarin, di kampus saya, diadakan sebuah seminar yang membahas khusus buku, atau yang biasa kita kenal dengan bedah buku, terbitan INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) dengan judul buku Islamic Science : Paradigma, Fakta dan Agenda yang dipandu oleh Ustad Ir. Budi Hardianto, M.Pd.I. yang merupakan peneliti di INSIST sekaligus salah satu pengisi materi dari buku Islamic Science tersebut. Dalam kajian bedah buku tersebut, dipaparkan bagaimana ilmu pengetahuan empiris memiliki keterkaitan yang begitu kuat dengan ilmu dalam Islam, banyak pembuktian ilmiah yang sudah tercantum sebelumnya dalam wahyu yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terima yakni Al-Qur’an dan yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. wariskan yakni Alhadist, hingga karya-karya ilmiah yang diteliti dan ditemukan oleh ulama-ulama besar muslim dahulu seperti Ibnu Sina, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, Al-Biruni dan masih banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu.

Adalah kebingungan yang akan kita sebagai seorang muslim dapatkan ketika memikirkan bagaimana pola atau alur berpikir orang-orang non muslim yang masih juga non muslim sekalipun sudah kita sama-sama tau fakta ilmiah Al-Qur’an dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Ilmu, menurut perspektif barat, haruslah hal yang berkaitan dengan faktor-faktor bukti, empiris, dapat diulang, ilmiah. Faktor-faktor ini yang akhirnya menyebabkan Al-Qur’an, yang juga menjelaskan hal-hal metafisik (ghaib) tidak dipandang sebagai ilmu, melainkan hanya keyakinan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Berbeda dengan Islam. Kita meyakini bahwa sumber ilmu tidak hanya mencakup keberadaan suatu objek saja. Diluar bukti empiris yang sifatnya kebendaan, Islam juga menjadikan wahyu sebagai sumber ilmu yang utama. Bahkan, ketika sesuatu yang dibuktikan secara empiris itu bertentangan dengan wahyu, kita harus menolaknya. Di sanalah iman berperan dalam diri seorang muslim. Karena bisa saja bukti empiris itu sifatnya subjektif, yang kita tidak tau bagaimana metode dalam mencari kebenarannya (epistimologi). Sedangkan kita yakin, bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah sendiri yang tidak dapat kita tentang keobjektifitasannya. Malah, bila memang perlu dibuktikan secara ilmiah, Islam berani memajukan wahyunya untuk dibuktikan. Bukankah fakta di lapangan, banyak ilmuwan-ilmuwan non muslim di berbagai universitas di negara barat membuktikan fakta-fakta ilmiah wahyu ini sendiri? Dan banyak yang terbukti, bukan? Kalau kata Ust. Budi sih, Biarin aja mereka (non muslim) membuktikan kebenaran Al-Qur’an kita.

Namun bukan hal ini hal yang mau saya bicarakan, melainkan terkait Islamic World View yang harus melekat dalam benak kita untuk menyaring ilmu-ilmu yang bertebaran di dunia ini. Dijelaskan dalam surat Al-‘Alaq (96) yang turun pertama kali kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (Q.S. Al-‘Alaq : 1)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan manusia untuk membaca, dalam artian mencari ilmu, mencari tujuan hidupnya yakni menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan akal yang mereka miliki. Iqra’! Itulah perintah Tuhan yang menciptakanmu. Namun dalam ayat itu juga disebutkan “Dengan nama Tuhanmu“. In syaa Allah ini yang akan kita bahas.

….”Aku tidak bisa baca”. Maka malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat dan kemudia berkata lagi, “Iqra’ (bacalah)!”. “Aku tidak bisa baca”….” (H.R. Bukhari No.3)

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pulang ke keluarganya, membawa wahyu ini dalam keadaan gelisah. Beliau menemui isterinya, Khadijah binti Khawalid seraya berkata, “Selimuti aku! Selimuti aku!“. Allah memberikan wahyu yang membuat Rasulullah khawatir hingga menyelimuti diri, merenungkan maksud wahyu yang Allah firmankan kepadanya melalui malaikatNya Jibril, dan memikirkan bagaimana caranya beliau dapat menyampaikan kepada kaumnya. Dalam beberapa riwayat dikatakan 3 tahun jenjang waktu yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dapatkan sebelum wahyu kedua (Al-Muddatsir/orang yang berselimut/74  : 1-5), ada juga yang mengatakannya selama 5 tahun. Tidak dapat kita bayangkan, barangkali bila amanah Rasul itu sampai pada kita, bukan hanya dikatakan gila oleh orang, kita sendiri mungkin juga dapat gila karenanya. Maha Kuasa Allah yang mempersiapkan mental Muhammad.

Metode pencarian ilmu, berkaitan juga dengan metode dalam penyampaian seorang ahli ilmu. Dalam pendidikan di masa sekarang, sudah jarang sekali dapat kita temukan sekolah-sekolah dasar hingga menengah atas yang guru-gurunya mengajarkan konsep akidah dalam penyampaiannya. Rasanya seperti hanya guru agama saja yang punya kewajiban mendidik rohani siswa dan siswi. Pernah saya ketika SMA, mendapati seorang guru matematika yang cara pengajarannya berbeda dari guru yang lain. Beliau menyelipkan pembimbingan akhlaqul karimah dan konsep tauhid rububiyah kepada siwa siswinya. Beliau menyuruh anak-anak yang belum shalat dzuhur (karena pada saat itu kelas saya ba’da dzuhur) untuk shalat terlebih dahulu sebelum memulai kelasnya. “Kalau shalat dzuhur aja yang fardhu ‘ain kamu gak sanggup, gimana kamu sanggup sama pelajaran matematika yang fardhu kifayah kayak gini?“, barangkali itu hikmah yang ingin disampaikan oleh guru saya itu. Ada masanya juga beliau menceritakan tentang Al-Khawarizmi, seorang cindekiawan muslim yang menemukan konsep ‘Penyelesaian’ atau dalam bahasa arab kita kenal dengan Al-Jabr atau Al-Jabar. Ma syaa Allah. Semoga Allah merahmati guru saya yang satu ini.

Nah, inilah yang hilang dari masyarakat terdidik sekarang, atau barangkali dari diri kita sendiri juga. Kita kehilangan konsep mendekatkan diri pada Allah dari ilmu yang kita pelajari, padahal hakikatnya ilmu itu datang dari Allah. “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (Al-‘Alaq : 5). Menurut Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka), di dalam 5 ayat yang mula turun ini telah jelas penilaian tertinggi kepada kepandaian mencari ilmu, baik itu kepandaian membaca maupun menulis (dengan qalam). Syekh Muhammad Abduh pun dalam tafsir Al-Hakim-nya mengatakan :

Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini, dalam menyatakan pentingnya membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bagiannya. Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang. Maka kalau muslimin tidak mendapat petunjuk dengan ayat ini dan tidak mereka perhatikan jalan-jalan buat maju, merobek segala selubung pembungkus yang menutup pengelihatan mereka selama ini terhadap ilmu pengetahuan, atau mendobrak pintu yang selama ini terkunci sehingga mereka terkurung dalam bilik gelap, sebab dikunci erat-erat oleh pemuka-pemuka mereka sampai mereka maraba-raba dalam kegelapan bodoh. Dan kalau ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, maka tidaklah mereka akan bangun lagi selama-lamanya.”

Didapati di sini, bahwa membaca dengan nama Allah haruslah menjadi pondasi kita dalam menuntut ilmu. Dan wahyu adalah sumber ilmu yang paling pertama dan utama dalam hierarki sumber ilmu bagi seorang muslim, yang berarti seempiris apapun fakta, bila wahyu ternyata bertolakan, maka kita harus menolaknya. Namun dalam hal penafsiran wahyu pun tidak dapat kita jadikan penafsiran pribadi sebagai rujukan untuk mengambil arti teks dari wahyu tersebut. Barangkali memang rumit, tapi Islam yang mengedepankan dasar pemikiran yang jelas tidak bisa semerta-merta dijalankan sesuai pemahaman seorang awwam seperti kita. Namun tetap, Al-Qur’an sendiri diturunkan oleh Allah bukan untuk sulit di mengerti, malah sebaliknya.

Dalam fakta lapangan, banyak terjadi iqra’ tanpa bismirabbikalladzii. Yakni ilmu tanpa iman, yang mengakibatkan munculnya atheismeagnostik, skeptisisme, sekulerisme dan pluralisme. Dan juga sebaliknya, bismirabbikalladzii tanpa iqra’. Yaitu melakukan sesuatu yang dianggap amalan tanpa tau dasar yang shahih terhadap amalannya itu, muncullah teroris yang mengatasnamakan Islam dan jihad, tanpa tau apa hakikat dari jihad itu sendiri.

Ihdinash-shiraatal mustaqiim.

Billahi fii sabilil haq, kebenaran hanya milik Allah semata.

Bandung, 17 April 2017

Ahmad Bustan Djatmadipura

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: