Kaum Muslimin dan Isa

1cde8cd0e66312cdc416c7365a22ca9d

Bismillahirrahmanirrahim.

Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam telah berhasil melawan paganisme (penyembahan terhadap berhala) dan mengikisnya dari negeri-negeri Arab, seperti juga yang dilakukan oleh Nabi-Nabi sebelumnya di Persia, Afganistan dan tidak sedikit pula di India. Maha Kuasa Allah yang memberi kekuatan bagi Islam, menyebabkan risalah yang dibawa Rasulullah tersebar.

Namun pihak Nasrani mengkonfrontasikannya dengan langsung, menghadapinya dengan sikap permusuhan yang sengit. Seperti halnya paganisme, adakah juga terhadap agama Nasrani akan senasib mengalami kelenyapan sebagai salah satu agama Kitab yang juga dihormati oleh Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam? Adakah kabilah-kabilah Arab pedalaman yang datang dari pelosok Semenanjung padang pasir yang datang dan bermaksud menyerang Andalusia, Bizantium dan daerah-daerah Nasrani lainnya? Tidak! Lebih baik mati daripada itu.

Islam melarang kaum Muslimin merendahkan kedudukan Isa sebagai hamba Allah yang diberi kitabNya dan dijadikanNya seorang Nabi, beroleh berkah, memperingati manusia akan pesan-pesan yang Tuhan sampaikan, dijadikanNya beliau orang yang berbakti kepada ibunya, dan tidak dijadikan termasuk kedalam golongan yang celaka.

Pada masanya, tidak seperti di hari ini, Nasrani memiliki kedekatan yang begitu membatin di hati umat Muslim. Saat peperangan besar terjadi antara Persia yang dimayoritasi agama Majusi dengan Romawi yang Nasrani, kaum Kafir Mekah gembira sekali melihat kekalahan Romawi; sebab mereka juga ahli Kitab seperti Muslim. Sebaliknya kaum Muslimin merasa sedih atas kekalahan saudara ahli Kitabnya itu. Itulah salah satu contoh kedekatan batin antara kaum Muslimin dengan Nasrani.

“.. Dan akan kaudapati orang-orang yang paling dekat bersahabat dengan orang-orang beriman, mereka yang berkata : “Kami adalah orang-orang Nasrani,” sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang tekun belajar dan rahib-rahib dan mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.S. Al-Maidah/5 : 82)

Kemudian kita melihat kedua agama ini mempunyai konsep tentang hidup dan akhlak yang dapat dikatakan sama. Sebagai contoh, bahwa keduanya memandang manusia dan awal mula penjadiannya sama : Allah menciptakan Adam dan Eve (Hawa) di surga, lalu kemudian diwahyukan untuk tidak mengikuti godaan setan, tetapi mereka makan juga buah Pohon Abadi itu. Maka mereka pun keluar dari surga. Mereka meminta ampun kepada Allah, lalu Allah mengirimkan mereka ke bumi, yang akan jadi saling bermusuhan pada sebagian keturunan dari mereka. Ada yang diperdaya oleh setan, maka muncul lah golongan yang sesat dan ada pula yang melawan kehancuran itu. Dan untuk memperkuat perjuangan manusia, Allah mengutus Noah (Nuh), Abraham (Ibrahim), Moses (Musa), Jesus (Isa) dan nabi-nabi yang lain, dan kepada tiap dari mereka diberikan Kitab (wahyu) menurut bahasa lingkungannya guna memperkuat apa yang datang dari Allah dan memberi penerangan pada mereka. Sebagaimana di pihak setan ada barisan yang membela nafsu kejahatan, juga para malaikat yang memuja dan mengkuduskan kesucian Allah.

Yang menjadi perbedaan Muslim dengan Nasrani hanya perbedaan konsep ketuhanannya. Akan kita lihat di Al-Qur’an yang menyebutkan Isa dan Maryam dengan penghormatan dan penghargaan yang begitu besar dari Tuhan sehingga kita pun karenanya turut bersimpati pula, terbawa oleh rasa persaudaraan dengan Nasrani. Namun sebaliknya, kaum Nasrani tidak mengakui kenabian Muhammad seperti Islam yang mengakui kenabian Isa. Dan juga Islam menolak Trinitas sedangkan Nasrani menjadikannya landasan. Kaum Nasrani menuhankan Isa dan berpegang pada argumen ketuhanannya, bahwa ia sudah berbicara sejak masa buaiannya serta memperlihatkan mukjizat-mukjizat yang dianggap hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. Benar adanya mukjizat itu, namun bagi Islam kita memandang itu sebagai suatu kuasa Tuhan, memperlihatkan keMaha Kuasaannya dengan memberikan mukjizat pada nabi-nabi yang ada, bukan menciptakan Tuhan di sampingnya.

“Ingatlah! Para malaikat berkata: “Maryam! Allah telah memberimu berita gembira mengenai sebuah firman dari Dia: namanya Isa Almasih, putra Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat dan termasuk orang terdekat (kepada Allah). Ia berbicara kepada orang ketika dalam buaian dan sesudah dewasa termasuk orang yang saleh.” Ia berkata: “Tuhan! Bagaimana aku akan beroleh seorang putra padahal tak seorang manusia pun menyentuhku?” Ia berfirman: “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Ia hendak menentukan suatu rencana Ia hanya berfirman: “Jadilah” maka jadilah ia! Dan Allah mengajarkan kepadanya Kitab, Kebijakan, Taurat dan Injil. Dan selaku rasul kepada Bani Israil (dengan pesan): Aku datang kepada kamu dengan sebuah bukti dari Tuhan kamu bahwa aku akan membuatkan bagi kamu yang dibuat dari tahan seperti bentuk burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah: Dan aku akan menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan penderita sopak serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Dan kuberitahukan kepada kamu apa yang kamu makan dan apa yang kaumu simpan di rumah-rumah kamu. Sungguh suatu bukti bagi kamu jika kamu beriman.” (Q.S. Ali-Imran/3 : 45-49)

Jadi Al-Qur’an menegaskan, bahwa Isa dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang yang buta dari lahir, menyembuhkan sopak, dan dari segumpal tanah ia ciptakan burung serta dapat membuat ramalan. Dan semua ini merupakan sifat-sifat ilahi.

Pandangan kaum Nasrani bahwa Isa juga Tuhan di samping Allah dijadikan mereka bahan argumen dan mengajak berdebat dengan pendiriannya. Dan ada lagi sebagian dari mereka yang meuhankan Maryam karena Allah telah menurunkan firmanNya kepadanya. Pendirian seperti itu menganggap Maryam salah satu oknum dari Trinitas: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Itu merupakan pandangan salah satu sekte dari sekian banyak sekte Nasrani yang terpencar-pencar.

Argumen yang kaum Nasrani gunakan sebagai landasan Trinitas, sebab Allah berkata : Kami perintahkan, Kami jadikan, Kami tentukan. Kalau hanya satu tentu Ia berkata: Aku perintahkan, Aku jadikan, Aku tentukan. Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam mendengarkan semua tanggapan mereka itu, dan mengajaknya berdiskusi dengan cara yang lebih baik, tidak sekeras terhadap kaum berhala (Pagan). Ia kemukakan firman Allah :

“Sungguh kafir orang yang mengatakan bahwa Allah ialah Almasih putra Maryam. Katakanlah: “Siapakah yang mampu merintangi kehendak Allah jika Ia hendak membinasakan Almasih putra Maryam dan ibunya dan siapa saja yang ada di bumi ini semua. Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan segala yang ada di antaranya. …” (Q.S. Al-Maidah/5 : 17)

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam! Engkaukah yang berkata kepada orang: ‘Sembahlah aku dan ibuku sebagai tuhan Selain Allah’?” Ia berkata: “Mahasuci Engkau! Tidak sepatutnya aku mengatakan apa yang bukan menjadi hakku. Kalaupun aku mengatakannya, tentulah Engkau sudah mengetahuinya. Engkau sudah mengetahui apa isi hatiku dan aku tidak mengetahui apa yang ada padaMu. Engkaulah Mahatau segala yang ghaib. Apa yang kukatakan kepada mereka hanyalah yang Kauperintahkan kepadaku: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanku’; dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku di tengah-tengah mereka. Tetapi setelah Kauwafatkan aku, maka Engkaulah Pengawas mereka. Dan engkau adalah Saksi atas segalanya.” (Q.S. Al-Maidah/5 : 116-117)

“Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada diperanakkan, dan tak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Q.S. Al-Ikhlas/112 : 1-4)

Pada dasarnya Islam adalah agama Tauhid, dalam pengertiannya yang murni dan kuat sekali, dan dalam pengertiannya yang sederhana yang jelas sekali. Ke-Esaan ada padaNya. Setiap kemungkinan yang akan mengaburkan Tauhid jelas Islam menolaknya dan menganggap kufur. Baik itu kepada yang dzhahir (nampak) maupun yang ghaib. Bagaimanapun konsep Trinitas yang memang mempunyai hubungan sejarah dengan beberapa agama lama, namun bagi Rasulullah itu sama sekali bukan kebenaran. Yang benar adalah Allah itu Esa, tidak bersekutu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tak ada yang menyerupai diriNya.

Masalah lain yang menimbulkan perbedaan pendapat Islam dengan Nasrani, dan menjadi puncak perdebatan antara dua golongan itu pada masa Nabi (dan hingga kini), ialah masalah penyaliban Isa untuk menebus dosa orang dengan darahnya.

“Dan karena perkataan mereka: Kami telah membunuh Isa Almasih putra Maryam, Utusan Allah – padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi demikianlah ditampakkan kepada mereka. Dan mereka yang berselisih pendapat selalu dalam keraguan mengenai itu, tanpa didasari suatu pengetahuan selain dengan perkiraan saja, dan yang mereka bunuh tidak meyakinkan. Tetapi Allah telah mengangkatnya ke hadirat-Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. An-Nisa/4 : 157-158)

Kalaupun konsep penebusan dosa anak cucu Adam dengan darah Jesus memang indah sekali, dan apa yang ditulis orang tentang itu patut menjadi bahan studi dari segala seginya – sastra, etika atau psikologi, namun prinsip yang telah ditentukan Islam, bahwa orang tidak dibenarkan memikul dosa orang lain, dan bahwa setiap orang pada hari kemudian diganjar sesuai perbuatannya – kalau ia berbuat baik dibalas dengan kebaikan, kalau jahat dibalas dengan kejahatan – menyebabkan pendekatan logis antara kedua ajaran ini tidak mungkin. Di sini logika Islam sangat konkret, sehingga tidak ada gunanya usaha mencari persesuaian, melihat garis perbedaan yang begitu tajam antara konsep penebusan dengan konsep hukum yang bersifat pribadi.

“… Seorang ayah kelak tidak lagi berguna bagi anaknya dan seorang anak sedikit pun tidak lagi berguna bagi anaknya …” (Q.S. Luqman/31 : 33)

Tentang agama baru yang dibawa Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam ketika itu, sudah ada dari kalangan Nasrani ketika itu yang mau memikirkannya, serta akhirnya melihat keselarasan konsep Tauhid dengan ajaran yang dibawa Isa. Banyak diantara mereka yang berakal sehat dan berhati bersih dari kecintaan terhadap dunia di antara mereka kemudian beriman kepada ajaran yang dibawa agama Islam.

Billahi fii sabilil haq, kebenaran hanya milik Allah.

Ihdinash-shiraatal mustaqiim, semoga Allah menjadikan kita selaku hambanya untuk tetap berada di jalan yang benar.

Bandung, 18 April 2017

Ahmad Bustan Djatmadipura

Buku rujukan: Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: