Pluralisme : All is Relative

screen-shot-2014-04-04-at-7-06-15-am

“Semua adalah relatif” merupakan slogan generasi postmodern di Barat. Ia bagaikan firman tanpa Tuhan dan sabda tanpa Nabi. Seperti undang-undang tanpa penguasa. Seperti doktrin ideologis tanpa partai. Seringkali digunakan liberalis yang menggunakan slogan “tidak ada kebenaran kecuali Tuhan” untuk menentang dalil-dalil yang bahkan berasal dari firman Tuhan (Al-Qur’an) itu sendiri. Menciptakan suatu interpretasi yang hanya dirinya sendiri yang mampu menafsirkan kebenarannya. Suatu ke-relatif-an yang menyimpulkan betapa naifnya seorang ketika disapa kebenaran.

Slogan ini memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa dipandang sebagai sebuah nisbi belaka; dapat begini dapat begitu, tidak absolute. Artinya tergantung siapa yang menilainya.

Celakanya, slogan relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian pemikiran Barat terhadap Agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat, bahkan syari’at Tuhan itu sendiri, yang akhirnya diwariskan kepada generasi postmodernis hingga penerus-penerusnya kini.

Tapi semua orang tahu, kebencian tidak pernah bisa menghasilkan suatu kearifan dan kebenaran. Bahkan persahabatan dan persaudaraan tidak selalu bisa kompromi dengan kebenaran. Aristotle rela memilih kebenaran daripada persahabatan.

Tidak puas dengan sekedar membenci, selanjutnya pada postmodernis ingin menguasai agama-agama. “Untuk menjadi wasit, tidak perlu menjadi pemain” itu mungkin logikanya. Untuk menguasai agama tidak perlu beragama. Itulah rujukan yang akhirnya membuat mereka membuat “teologi-teologi” (ketuhanan) baru yang mengikat. Kini teologi pun turut diadu dengan ideologi (psudo-teologi). Doktrin ideologi pluralisme (semua agama adalah benar) beragama pun berada di atas agama-agama. Global theology dan Transcendent Unity of Religions mulai dijual bebas. Dan agar nama “Tuhan” menjadi global diciptakan nama “Tuhan baru” atau The One, Tuhan semua agama. Bagaimana konsepnya, tidak jelas betul. Tapi akhirnya semua tuhan dan Tuhan, baik itu ­yahweh, tuhan bapa, brahma dan tuhan-tuhan lainnya, bahkan Allah, dianggap merupakan simbolik tiap-tiap agama pada Tuhan yang Ahad. Pada akhirnya umat beragama dikekang untuk menyebarkan kebenaran agamanya karena ‘semua agama sudah benar, hanya saja interpretasi terhadap tuhannya berbeda-beda’. Satu lagi kekacauan berpikir yang harus diluruskan.

All is relative” berkembang menjadi sebuah kerangka berpikir: “Berpikirlah yang benar tapi jangan merasa benar”, sebab kebenaran itu relatif. “Jangan terlalu lantang berbicara kebenaran, dan jangan menegur kesalahan”, sebab kebenaran itu relatif. “Benar bagi anda belum tentu benar bagi kami”, sebab kebenaran itu relatif. “Kalau anda mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan anda benar”, iman orang lain mungkin juga benar. Intinya semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran. Berujung pada ketidakyakinan secara total terhadap agama yang dianut. Jadi, dalam doktrin ini, merasa benar menjadi seperti makruh dan merasa benar sendiri tentu haram. Para artis dan selebriti negeri ini pun ikut menikmati slogan ini. Dengan lantang dan penuh emosi ada yang berteriak “Semuanya benar dan harus dihormati!”. Yang membuka aurat dan yang menutup sama baiknya. CONFUSING!

“Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar, orang lain juga berhak mengklaim itu salah”, kata Nietzsche, sebuah da’wah ayat-ayat setan yang dibawakan tokoh postmodernisme dan nihilisme. Kalau anda merasa agama anda benar, orang lain berhak mengatakan agama anda salah.

Celakanya lagi, sejumlah cendekiawan Muslim pun punya profesi baru yang didasari doktrin ini, yaitu membuka pintu surga Tuhan untuk pemeluk semua agama. “Surga terlalu sempit kalau yang dapat mengisinya hanya umat Islam”, “Apa tidak kasihan melihat umat-umat agama-agama lain kalau mereka sudah dijamin masuk neraka?”, “Dimana kemanusiaannya?”, kurang lebih yang dikatakan mereka. Seakan mereka sudah mengukur diameter surga Allah dan malah mendahului iradat Allah, berbicara atas nama Tuhan, bukan lagi dengan nama Tuhan.

Slogan “All is relative” kemudian diarahkan menjadi kesimpulan “Di sana tidak ada kebenaran mutlak” (There is no absolute truth). Kebenaran, moralitas, value system, dan lain-lain adalah relatif belaka.

Tapi karena asalnya adalah kebencian maka ia menjadi tidak logis dan dapat ditentang dengan mudah. Kalau anda mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” maka kata-kata anda itu sendiri sudah mutlak, padahal anda mengatakan semua relatif. Jadi bagaimana saya bisa menganggapnya sebuah ideologi mutlak? Kalau anda mengatakan “All is relative” atau “Semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan anda itu juga relatif alias tidak absolute. Sebuah self-contradictiory yang absurd.

Menghapus kepercayaan pada kebenaran mutlak pun tidak mudah. Menurut survey yang saya dapat, merujuk pada buku Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi dan Islam, di negeri liberal seperti Amerika Serikat sendiri 70% Kristen misionaris dan 27% Atheis dan Agnostik (percaya Tuhan namun tidak terikat/percaya agama) percaya pada kebenaran absolute. (Seperti dilaporkan William Lobdell di The Los Angeles Times dari hasil penelitian Barna Research Group)

Karena itu doktrin postmo pun berubah: “Anda boleh percaya pada yang absolute asal tidak mencoba memaksakan kepercayaan anda pada orang lain”. Artinya tidak boleh ada siapapun yang boleh menyalahkan dan melarang siapa. Padahal pernyataan ini sendiri telah melarang orang lain. Bagi misionaris di Barat ini dianggap sikap pengecut, pemalas bahkan hipokrit (munafik). Bagi kita pernyataan ini menghapus amar ma’ruf nahi munkar.

Dan slogan “All is relative” pun berujung pada alasan “Yang absolute hanya Tuhan”. Aromanya seperti Islami tapi sejatinya juga menjebak. Mulanya seperti berkaitan dengan masalah ontologi (KBBI: cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup). Selain Tuhan adalah relatif (mukmin al-wujud). Tapi pada akhirnya dibawa kepada persoalan epistimologi (KBBI: cabang ilmu filsafat tentang batas-batas pengetahuan, terkait metode mendapatkan ilmu): Al-Qur’an yang diwahyukan dalam bahasa Arab, Hadist yang disabdakan Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam, ijtihad ulama dan sebagainya hanyalah relatif belaka. Tidak absolute. Sebab semua dihasilkan dalam ruang dan waktu manusia yang menyejarah.

Padahal Allah berfirman al-haqq min rabbika (kebenaran dari Tuhanmu) bukan ‘inda rabbika (pada Tuhanmu). “Dari Tuhanmu” berarti berasal dari sana dan sudah berada di sini di masa kini dan dalam ruang dan waktu kehidupan manusia. Yang manusiawi, yang menyejarah, sebenarnya bisa mutlak.

Menyatakan percaya pada Tuhan yang mutlak berarti percaya bahwa nilai-nilai moral manusia itu dari Tuhan. Demikian sebaliknya. “All is relative” bisa berarti semua tidak ada yang tahu Tuhan yang mutlak dan kebenaran firmanNya yang mutlak. Jadi pada apa kita harus berpedoman untuk mencapai kebenaran? Sekali lagi, membingungkan, confusing!

Jika begitu benarlah pepatah al-Nas a’da’u ma jahilu, manusia itu musuh bagi apa yang tidak diketahuinya.

Bandung, 19 April 2017 – Mengenang satu tahun wafatnya ayahanda saya Eddy Budhaya, semoga Allah melimpahkan berkah dan menjaganya dari siksa kubur dan diharamkan ruhnya dari api neraka kelak, serta diberikannya surga atas apa yang sudah dicapainya di dunia.

Ahmad Bustan Djatmadipura

Buku rujukan : Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi dan Islam, bab Deliberalisasi sub bab Kebenaran hlm. 128-132

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: