Menangkal Syaitan Masuk ke Dalam Hati Manusia

18033566_1892359957711988_1202913853750041105_n

Sumber foto : Facebook Si Bedil

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebelumnya kita sempat membahas jalur-jalur (pintu) setan ke dalam hati manusia. Sekarang, yuk kita bahas gimana sih cara melenyapkan penyakit-penyakit hati yang bisa buat setan masuk ke dalam hati kita!

Ketahuilah, cara kita bisa menangkal dan melenyapkan setan dari mendekatnya ia kepada pintu kita yang bisa terbuka untuknya antara lain dengan berdoa dan berlindung kepada Allah disertai usaha maksimal dalam menanggalkan sifat-sifat tercela itu dari hati kita dan dengan pemeliharaan dalam dzikrullah.

Inilah tiga penangkal, in syaa Allah akan kami uraikan satu-persatu :

1. Berlindung kepada Allah dengan doa dan menghimpun kelembutan-kelembutan tersembunyi di dalam menjauhkan setan dan melenyapkannya. ‘Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Suatu hari setan mendatangi Rasulullah sambil membawa nyala api, lalu berdiri di hadapan beliau yang sedang shalat. Beliau membaca dan mengucap ta’awwudz, tetapi setan tidak menyingkir. Lalu Jibril datang kepada Nabi dan berkata: ‘Ucapkanlah aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang tidak bisa ditembus si saleh maupun si jahat, berlindung dari keburukan (kejahatan) yang masuk bumi dan keluar dari bumi, yang turun dari langit dan yang naik ke langit, dan dari keburukan fitnah malam dan siang, para tamu yang datang di malam hari dan siang hari, kecuali tamu yang membawa kebaikan, wahai Yang Mahakasih.‘ Seketika nyala api yang dibawa setan itu padam dan setan pun pingsan.

Dalam riwayat lain, dari Al-Hasan al-Bashri, disebutkan, “Aku diberitahu bahwa Jibril mendatangi Rasulullah dan berkata kepada beliau, ‘Sesungguhnya Ifrit dari jin selalu menyiasati paduka. Maka, bila paduka hendak berbaring di ranjang, bacalah Ayat al-Kursi.’”

2. Setan itu datang dalam kekerasan hati, dan kelembutan yang tersembunyi harus kita himpun lalu singkap agar dapat melenyapkan setan. Seorang yang keras hatinya, sombong, tidak mau menerima keberanan, dan penuh maksiat, setan dengan  leluasa masuk dan menetap di dalam hatinya bahkan duduk di atas kepala (akal) nya. Sedangkan kelembutan, ketenangan, kebaikan hati dan kesabaran akan menutup rapat-rapat pintu-pintu hati yang dapat dilalui oleh setan.

Maka yang perlu kita lakukan yaitu berusaha untuk menghilangkan dan menanggalkan sifat-sifat tercela itu dari hati. Dalam mengalahkan dan menguasai manusia, setan itu seperti anjing: Jika manusia menyandang sifat dari ghadab, iri, rakus, tamak dan lainnya, maka setan akan seperti orang yang dihadapannya ada roti dan daging. Anjing pasti akan menyerobot tanpa bisa ditolak. Namun jika hati manusia tidak mengidap sifat-sifat tercela ini, setan tidak akan tamak padanya, karena tidak ada yang menarik seleranya. Dengan demikian, mengusirnya akan sangat ringan dan gampang: diusir dengan bentakan ta’awwudz dan hardikan istighfar.

Sifat-sifat tercela itu dilenyapkan dengan sifat-sifat yang menjadi lawannya.

  1. Ghadab dilenyapkan dengan ridha dan ketenangan,
  2. Keangkuhan dilenyapkan dengan tawadhu (rendah hati),
  3. Hasut dihilangkan dengan mengetahui hak si terhasut dan mengetahui bahwa orang yang diberi keutamaan dari Allah keutamaannya tidak bisa dilenyapkan darinya,
  4. Tamak dihilangkan dengan wara’ (berhati-hati) dan qana’ah (merasa cukup) atas pemberian dari Allah,
  5. Rakus dihilangkan dengan memastikan keadaan dunia dan keterputusannya dengan kematian, bahwa adanya dunia akan berakhir dengan adanya kematian.

Demikian kita mesti berusaha maksimal melenyapkan setiap bagian sifat tercela.

3. Berdzikir (mengingat Allah). Ini diisyaratkan dalam firman Allah, surat Al-A’raf (7) ayat 201 : “Sesungguhnya bila orang-orang bertakwa ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”. Maknanya, orang bertakwa akan segera berlindung pada dzikir kepada Allah setiap kali hati mereka merasa ‘nyeri’ karena tertimpa sesuatu dari sifat-sifat tercela ini. Dalam keadaan seperti itu, mereka dapat melihat akibat-akibat buruk dari perbuatan mereka. Dalam hal ini dzikir juga membantu seorang hamba untuk melihat dampak jangka panjang. Apabila dampaknya baik, akan ia lakukan. Sebaliknya apabila dampaknya kurang baik atau buruk, tidak akan ia lakukan.

Ya, dzikir tidak bisa menjadi pengusir setan kecuali jika hati penuh dengan rasa takut kepada Allah (khawf dan taqwa). Jika hati seseorang kosong dari khawf dan taqwa, bisa jadi dzikirnya menjadi tidak efisien atau bermanfaat bagi pintu hatinya. Perumpamaannya seperti orang yang demikian ingin minum obat saat perutnya masih terisi penuh dengan makanan dan tidak mau diet (puasa) atau mengosongkan perutnya terlebih dahulu. Namun ia ingin obatnya bermanfaat layaknya manfaat yang didapat orang yang mengosongkan perutnya terlebih dahulu.

Dzikir itu laksana obat sedangkan khawf dan taqwa laksana ihtima’ (mengosongkan perut sebelum minum obat). Jika dzikir sampai di hati yang kosong dari selain dzikir, setan akan terusir seperti virus yang hilang oleh manfaat obat yang masuk ke perut yang kosong dari makanan. Sebagaimana diisyaratkan Allah dengan firman-Nya surat Qaf (50) ayat 37 : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: