Inklusifitas dalam Beragama?

alquranvsinjil

Bismillahirrahmanirrahim.

Inklusif atau inclusive dalam Bahasa Inggris mengandung arti ‘termasuk di dalamnya’. Sedangkan inklusif secara istilah berarti menempatkan dirinya ke dalam cara pandang orang lain atau kelompok lain dalam melihat dunia. Dengan kata lain, inklusifitas adalah usaha penggunaan sudut pandang orang lain atau kelompok lain dalam memahami suatu masalah. Sikap inklusif cenderung memandang secara positif perbedaan yang ada.

Berdasarkan paradigma “toleransi”, sikap inklusifitas dipandang memotivasi untuk mempelajari perbedaan pendapat dan mencari sisi-sisi universalnya untuk memperoleh manfaat dan mencari sisi-sisi universalnya guna memperoleh manfaat yang menunjang hidup atau cita-cita masyarakat luas.

Sikap-sikap yang biasa dikembangkan dari inklusifitas ini antara lain :

  1. Menyadari bahwa setiap orang atau kelompok di masyarakat memiliki potensi mencapai kebenaran, sehingga menghindari primordialisme (merasa diri dan kelompoknya lebih baik dari yang lain) yang berlebihan, bahwa setiap orang atau kelompok juga memiliki sisi kelemahan yang membutuhkan kerjasama dengan orang atau kelompok lain.
  2. Mengakui adanya aspek-aspek universal yang mungkin bernilai positif pada orang lain atau kelompok lain yang berbeda pandangan untuk menunjang tercapainya cita-cita atau misi pembangunan masyarakat.
  3. Menumbuhkan jiwa sportif dalam bersosialisasi dan hidup bersama dengan orang lain atau kelompok lain, sehingga terdorong untuk mengelola perbedaan secara etis atau mengembangkan kompetisi yang sehat meskipun memiliki pandangan dan cara hidup yang berbeda.
  4. Membiasakan berkomunikasi dengan sehat tidak semata-mata didasari persepsi yang sempit dan kacamata kuda, melainkan berdasarkan pengamatan dan pengertian terhadap perbedaan yang ada.

Sikap (yang dianggap) positif yang timbul dari inklusifitas adalah sikap toleransi, anti permusuhan dan perpecahan, terhadap perbedaan yang dianggap adalah fitrah alamiah manusia, sehingga tidak menolak perbedaan melainkan mengakui adanya potensi persamaan-persamaan yang bersifat universal.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan individu terlebih masyarakat sifatnya itu luas, dan dalam masyarakat kini dipandang sulit bagi individu untuk memenuhi kebutuhan hanya dengan modal diri sendiri; sebagai yang tidak dapat dipungkiri contohya, teknologi telekomunikasi yang anda nikmati untuk membaca artikel ini adalah produk luar negeri yang sampai ke tangan anda. Dan sebagai titik tolaknya, kita harus memandang positif apa yang orang lain lakukan dalam rangka menjaga relasi kita dengannya agar ada bantuan dari pihak yang bersangkutan untuk memenuhi kebutuhan kita.

Umat beragama kini dihadapkan (salah satunya) dengan isu inklusifitas ini. Menganggap, dalam rangka menjaga keutuhan sebuah negara, salah satu hal utama yang harus diseragamkan adalah syari’at-syari’at yang berhubungan dengan keyakinan masing-masing agama; seperti contohnya bisa kita lihat kemarin dalam pemilihan kepala daerah yang berujung penentangan salah satu calon gubernurnya terhadap syari’at pelarangan memilih pemimpin non-muslim. Semua agama dipukul rata dan dianggap sesuatu yang ‘harus diatur’ sesuai keinginan negara.

Dalam pandangan inklusifitas, dimana setiap orang harus memiliki keyakinan bahwa setiap orang atau kelompok di masyarakat memiliki potensi mencapai kebenaran dalam menyelesaikan suatu masalah, segi agama memandangnya sangat dipaksakan. Tidak mungkin misalnya, bagi seorang Muslim untuk berkeyakinan bahwa seorang Nasrani, Hindu atau Buddha memiliki kebenaran dalam akidah agamanya, yang juga berpengaruh pada ketidakyakinan ia pada syari’at-syari’at diluar agamanya atau aturan yang bertentangan dengan aturan syari’at.

Melihat dari bagaimana pandangan iklusifitas, hal ini berkaitan dan memicu timbulnya pemikiran pluralisme itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa inklusifitas adalah buah dari sudut pandang para pluralis.

Jalan tengah dikatakan sebagai tujuan dari inklusifitas ini, namun sayangnya, dalam permasalahan akidah tidak akan ditemukan jalan tengan dari dua keyakinan yang berbeda. Yang akan timbul dari pemaksaan pencarian jalan tengah niscaya hanya akan membingungkan umat beragama sendiri. Malah, yang nantinya lahir adalah penyelewengan keabsolutan ajaran agama itu sendiri.

Primodialisme dan eksklusifitas itu lumrah terjadi bila akidah yang menjadi bahan obrolannya. Tidak bisa seorang beragama menganggap agama diluar agamanya lagi benar, bahkan merasa bahwa agamanya yang paling benar juga tidak bisa. Seorang muslim harus percaya bahwa tidak ada agama yang benar selain agama Islam, bahkan agama diluar Islam tidak dapat disebut tidak lebih benar, karena sesungguhnya hanya Islam lah yang benar dan tidak ada kebenaran sekecil apapun diluar Islam sendiri.

Barangkali dalam persoalan muamalah; dalam bermasyarakat, dagang, dan aktifitas yang membersamakan kita dengan orang-orang diluar agama kita, kita bisa melaksanakan tanpa penghalang, secara sehat dan sportif. Namun ketika itu menyangkut akidah, kita pun tidak bisa lari dan memilih menginklusifkan diri kedalamnya. Dan bahkan, apabila itu menyangkut suatu hubungan kemasyarakatan yang ada syari’atnya, kita wajib untuk mendahulukan syari’at karena disana letaknya pisau telaah mana yang maslahat (manfaat) dan mana yang mudharat (kerugian). Karena dalam beragama, pandangan ukhrawi tentunya harus dipandang lebih daripada masalah duniawi.

Apabila ada suatu pandangan yang merasa bahwa syari’at itu tidak sportif, maka sebetulnya pelarangannya terhadap umat beragama yang menjalankan syari’at juga bukanlah perlakuan yang sportif. Ada hak, namun ada juga kewajiban. Hak dalam urgensinya tentu di bawah kewajiban, dan hak sendiri memiliki batasan-batasan. Adalah kewajiban bagi umat Islam untuk menjalankan, mematuhi dan menginterpretasikannya dalam diri dan akhlaknya, dan adalah haknya juga untuk menjalankannya tanpa dibebani dan terhalang oleh faktor-faktor yang sifatnya subjektif dan eksternal (dari luar) agamanya. Sedangkan hak bagi orang diluar Islam adalah tidak diganggu aktifitasnya oleh seorang Muslim yang menjalankan syari’atnya. Dan lagi, adalah hak bagi orang luar Islam juga untuk tidak mematuhi syari’at yang diberlakukan di Islam, sebagaimana kita juga memiliki kewajiban untuk tidak melaksanakan aturan yang bertentangan dengan aturan syari’at agama Islam. Maka, adalah bukan haknya bagi orang luar Islam untuk melarang seorang Muslim untuk menjalankan syari’at-syari’at agama Islam, apalagi yang bertentangan dengan syari’at agamanya. Dan bagi seorang Muslim (dan bersaksi bahwa dirinya adalah seorang Muslim), maka apalah artinya ia bila tidak menjalankan syari’at-syari’at agamanya dan memilih berada di “jalur tengah” yang penuh keraguan. Dan jalan yang penuh keraguan akan mendekatkan seorang Muslim sebagai seorang munafiq, di mana ia hanya menjalankan syari’at-syari’at yang dia sukai dan mencari pembenaran bagi dirinya apabila ia menjalankan suatu amalan yang tidak sesuai syari’at, kegiatan bermudharat, atau bahkan kemaksiatan. Seorang munafiq menjalankan agamanya sebagaimana nafsu dalam hatinya, bukan menjalankan hatinya sebagaimana agama mencoba menuntunnya.

Maka dapat dikatakan, bahwa berakidah dalam agama itu kita harus bersifat eksklusif, bahwa tidak ada kebenaran diluar dari agama yang kita peluk, bahwa tidak ada kebenaran akidah diluar agama Islam, dan tidak ada keadilan dari suatu aturan bila itu bertentangan dengan syari’at yang tercantum dalam Islam.

Terhadap orang yang bersikap demikian (ragu), Allah menegaskan dalam firmannya: Khasira al-dun-yâ wa al-âkhirah (rugilah ia di dunia dan di akhirat). Mereka memang bisa mendapatkan kesenangan duniawi. Tetapi duniawi itu sangat sedikit (matâ’ qalîl). Tidak sebanding dengan kecelakaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, sesungguhnya yang mereka dapatkan hanya kerugian, baik di dunia dan akhirat. Kerugian mereka di dunia adalah kehilangan kemulian, kehormatan, bagian ghanimah (harta rampasan perang), dan kelayakan dalam kesaksian, imamah, dan peradilan. Harta mereka juga tidak lagi terjaga. Sedangkan kerugian di akhirat, mereka kehilangan pahala yang kekal dan ditimpa siksa yang abadi.

 

Bandung, 4 April 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: