Muraqabah (Diawasi)

Muraqabah Allah (Merasa Selalu Diawasi Allah)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Pembaca yang dirahmati Allah, pada tanggal ini kita telah memasuki bulan ramadhan yang di mana merupakan bulan yang Allah telah istimewakan dan diberikan kelebihan dibandingkan bulan lainnya untuk umat Rasulullah salallahu

‘alaihi wassalam. Bulan yang terdapat banyak keutamaan dan merupakan kesempatan bagi umat islam menampung amal semaksimal mungkin.

Kali ini, saya akan membahas mengenai “Muraqabah”.

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Makna muraqabah adalah terpaterinya perasaan keagungan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebesaranNya di kala sepi ataupun ramai.

 

Arti dari muraqabah secara sederhananya adalah merasa setiap gerak-geriknya baik yang terang-terangan maupun tersembunyi sekalipun selalu diawasi oleh Allah walaupun tak ada satupun makhluk yang melihat apa yang ia perbuat dan ia rahasiakan.

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“Allah adalah Zat yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk shalat) dan melihat pula gerakanmu di antara orang-orang yang sujud” (QS. Asy-Syu’ara :218-219)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun  yang tersembunyi baik yang berada di bumi maupun yang berada di langit” (QS. Ali-Imran :5)

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Allah mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat dan mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati” (QS. Al-Mu’min :19)

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

dan, firman Allah lainnya yang menjelaskan dengan benar tentang muraqabah “Sesungguhnya Tuhanmu senantiasa benar-benar mengawasi” (QS. Al-Fajr : 14)

Ayat-ayat lainnya yang membahas mengenai Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi masih banyak lagi dalam Al-Quran.

Pembaca yang dirahmati Allah, orang-orang yang merasa bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah setiap waktunya percayalah bahwa ia adalah orang yang tak akan menyia-nyiakan hidupnya dan sisa umurnya untuk melakukan hal yang tak berguna apalagi hal maksiat yang pastilah dosa, baik itu terang-terangan maupun tersembunyi sekalipun di lubuk hatinya. Orang yang merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah azza wa jalla, ia akan senantiasa meningkatkan kualitas dirinya di hadapan Allah dan meninggalkan hal yang sifatnya dunia. Dunia di matanya adalah suatu hal yang hina dan sudah tentu ia akan meninggalkannya.

Orang yang selalu merasa dirinya diawasi oleh Allah atau memiliki sifat muraqabah, ia akan merasa sangat hati-hati dalam bertindak. Sebab, dosa sekecil apapun ia yakin Allah mengetahuinya dan ia mengimani itu. Banyak orang yang tahu sebenarnya itu adalah perbuatan dosa dan tahu bahwa Allah senantiasa melihatnya, tapi ia seakan tak peduli, seakan ia bebas melakukan hal yang di luar batas hukum islam yang telah ditetapkan Allah swt. itu dikarenakan orang tersebut belum mengimaninya dengan sungguh-sungguh. Ia baru sekedar ‘tahu’, tapi tidak mengimani dengan sebanar-benarnya.

Dituturkan dari Umar bin Khaththab radiyallahu’anhu yang berkata, “Pada suatu hari sewaktu kami sedang duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang pria yang berpakaiannya serba putih dan rambutnya sangat hitam. Orang itu tidak diketahui dari mana datangnya. Dan, tiada seorang pun di anatara kami yang mengetahui tentang dia sebelmnya. Orang itu langsung duduk di dekat Nabi, menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua telapak tangan beliau seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, uraikanlah kepadaku tentang islam.‘ Jawab Rasulullah saw. ‘Islam ialah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan ramadhan, dan beribadah haji ke Baitullah apabila engkau mampu menempuh perjalanannya.‘ Ucap orang itu, ‘Benar engkau.
Kami terheran-heran melihat sikap orang itu. (ini) karena dia menyakan sesuatu, tetapi ia juga membenarkannya. Tanyanya lebih lanjut, ‘Uraikan kepadaku tentang iman.‘ Jawab beliau, ‘Yaitu, engkau percaya dengan sepenuh hati kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Juga, engkau percaya dengan sepenuh hati terhadap takdir, takdir baik dan takdir buruk, yang datangnya dari Allah.‘ Ucap orang itu, ‘Benar engkau.
Ucapnya lebih lanjut, ‘Uraikanlah padaku tentang ihsan.‘ Jawab beliau, ‘Yaitu, engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak bisa seakan melihat-Nya, berkeyakinanlah bahwa Allah melihatmu.
Ucapnya lebih lanjut, ‘Uraikan kepadaku tentang kapan Hari Kiamat datang.‘ Jawab beliau, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.‘ Ucapnya lebih lanjut, ‘Kini uraikan kepadaku tentang berbagai tanda Hari Kiamat.‘ Jawab beliau, ‘Apabila ada seorang budak belian melahirkan tuannya dan apabila engkau melihat orang-orang fakir miskin yang tidak bersepatu lagi telanjang, dan pekerjaanya menggembalakan kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.
Orang itu lantas (mohon diri dan) pergi. Kami (hanya) diam termenung. (Tiba-tiba) beliau bertanya (kepadaku),’Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?‘ Jawab saya, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.‘ Beliau pun bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang bertanya tadi adalah Jibril. Dia datang untuk mengajarkan tentang agama kalian.(HR. Muslim)

Dari hadist di atas kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah memiliki banyak cara untuk terus mengawasi tiap-tiap hamba-Nya dan tanpa diduga pun Allah dapat mengutus malaikat Jibril dan membuatnya srupa dengan wujud manusia untuk mengajari bagaimana islam. Salah satu yang diajarkan Jibril melalu Rasulullah adalah mengenai perilaku ihsan yang di mana kita diharuskan menyembah Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan kalaupun tak bisa seakan melihat-Nya kita harus yakin bahwa Allah selalu melihat apa yang kita kerjakan.

Muraqabah adalah salah satu sifat wajib yang harus dimiliki seorang muslim. Sifat tersebut menjadikan iman seseorang menjadi sempurna. Sifat muraqabah ini akan terlihat dengan bagaimana ia menyikapi dan melakukan berbagai hal. Sudah tentu jika iman yang dimiliki seseorang itu begitu tinggi dan sangat melekat, sifat muraqabah ini pun akan senantiasa ia miliki.

Banyak orang yang lalai dalam menjalankan perintah Allah swt. dan bahkan selalu melakukan dosa itu dikarenakan mereka mengesampingkan makna muraqabah dan belum benar-benar mendirikan kalimat Tauhid yang sesungguhnya. Jika orang tersebut percaya benar bahwa Allah Yang Maha Mengawasi, percaya Allah Maha Mengetahui, percaya bahwa Allah akan membangkitkan mereka kembali dan mempertanggung-jawabkan perbuatannya walaupun sekecil biji zarah apa yang ia lakukan pastilah ia senantiasa selalu melakukan hal yang bermanfaat, berlaku jujur, berlaku adil, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, serta senantiasa meminta ampun terhadap dosa-dosa yang kerap kali ia lakukan yang tak terasa maupun ia benar-benar melakukannya.

Di bulan Ramadhan ini, Allah memberikan keringanan yaitu syaitan dibelenggu hingga bagi orang yang benar-benar beriman pastilah akan lebih mudah melakukan ibadah. Tapi, bagi yang melupakan Allah di bulan-bulan sebelumnya ia akan tetap sama karena telah berteman dengan syaitan. Syaitan tak perlu menggodanya, ia telah menjadi temannya dan ingin menjadi bagian darinya. Hal itu disebabkan bahwa sifat muraqabah ini tak dimiliki sepenuhnya dan keimanannya akan selalu dipertanyakan

Dituturkan dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu dari Nabi Saw. (bahwasanya) beliau bersabda “Sesungguhnya Allah swt. itu cemburu. Cemburunya Allah Swt. (terjadi) apabila ada seseorang yang melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pembaca yang in syaa Allah selalu dirahmati Allah., semoga di bulan Ramadhan kali ini merupakan bulan yang dimudahkan untuk memperbaiki diri karena-Nya dan melakukan segala hal dan tindakan atas niat karena-Nya serta senantiasa berhati-hati atas apa yang dilakukan walaupun hal tersebut begitu kecil menurut kita, padahal menurut Allah itu adalah suatu perkara yang besar.

Tentunya di akhir zaman ini begitu sulit untuk berlaku istiqomah terhadap kebaikan di jalan Allah yang dilakukan, sebab di zaman ini segala dosa yang dilakukan umat Nabi terdahulu terulang kembali di zaman umat Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam. Maka dari itu, buatlah benteng untuk diri kita sendiri untuk senantiasa memiliki sifat muraqabah sehingga apa yang selalu kita lakukan sesuai dengan apa yang disyariatkan islam dengan berbagai batasan-batasan tertentu sehingga kita tak menjadikan diri pula sebagai orang yang liberalis dan menahan ego dalam diri sehingga perbuatan yang munkar pun dapat dihindari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: